Gus Salam YS: Ramadan Momentum Hijrah Jiwa Menuju Karakter Insan Kamilah

AHQNews - Pengasuh Majelis AHQ Center Indonesia, Gus Salam YS, SE MM MPd menegaskan, bahwa Ramadan tidak seharusnya berhenti pada rutinitas menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan adalah momentum hijrah jiwa, sebuah proses transformasi batin untuk membangun karakter manusia yang bertakwa, memiliki cahaya Al Furqan, serta bergerak menuju pribadi insan kamilah.

Hal tersebut disampaikan Gus Salam YS dalam Kajian dan Dzikir Asmaul Husna bertema “Membersihkan Hati, Menata Niat, Menyambut Ramadhan” yang digelar di Rumah Bunda Erni, Gadungan, Pasar Canden, Jetis, Bantul, pada Minggu (8/2/2026).

Sadar Esensi Takwa, Bukan Sekadar Rutinitas

Dalam tausiyahnya, Gus Salam YS menjelaskan bahwa puasa puasa yang dijalani selama bulan suci ini bertujuan melahirkan manusia yang mampu menata diri, mengendalikan hawa nafsu, dan menjadikan ketaatan sebagai jalan hidup.

Karena itu, di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Ramadan harus dihadirkan sebagai ruang penyucian jiwa, pembenahan akhlak, dan penguatan kesadaran spiritual, agar perubahan yang lahir tidak berhenti di bulan Ramadan, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menyebutkan, puasa bukanlah ibadah baru dalam sejarah manusia. Ia adalah kesinambungan risalah langit yang telah diwajibkan sejak umat terdahulu. Allah SWT berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183)

“Ayat ini menegaskan, bahwa tujuan utama puasa adalah melahirkan pribadi yang bertakwa, yaitu pribadi yang taat menjalankan perintah Allah dan bersungguh-sungguh menjauhi laranganNya,” paparnya.

Karena itu, pada tahun 1447 Hijriah ini, umat perlu melakukan shifting mindset. Puasa tidak cukup dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ikhtiar serius untuk mengikis kemaksiatan hingga titik yang paling kecil.

“Jika setelah Ramadan perilaku dosa masih mendominasi, maka target takwa belum benar-benar tercapai alias gagal,” tegas Gus Salam YS.

Identifikasi Diri dan Detoks Ruhani

Allah SWT menjelaskan, bahwa puasa dilaksanakan dalam hari-hari yang telah ditentukan. Bagi yang sakit atau dalam perjalanan diberikan keringanan untuk menggantinya pada hari lain, dan bagi yang sangat berat menjalankannya diberi kewajiban fidyah.

Namun Allah menegaskan di dalam firmanNya di Surat Al Baqarah ayat184,“…dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Dijelaskan, ayat ini mengajarkan bahwa puasa bukan hanya soal hukum, tetapi tentang kesadaran batin. Karena itu, puasa harus diawali dengan identifikasi diri. Setiap orang perlu jujur memetakan sifat buruk apa yang ingin diperbaiki. Misalnya, mengubah nafsu amarah menjadi nafsu mutmainnah, membersihkan iri dan dengki, serta menghapus prasangka buruk terhadap sesama.

“Ramadan adalah proses detoks ruhani, pembersihan kotoran batin, luka jiwa, dan dosa-dosa yang mengendap di hati. Tujuan akhirnya, adalah melahirkan insanul kamilah, manusia yang kembali suci, bagaikan bayi yang baru dilahirkan,” terangnya.

Target Cahaya Al Furqan

Selain itu, lanjut Gus Salam YS, keistimewaan Ramadan terletak pada turunnya Al Quran. Allah SWT berfirman,“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.” (QS Al Baqarah: 185)

“Target besar puasa Ramadan adalah hadirnya cahaya Al Furqan dalam diri, yaitu kemampuan spiritual untuk membedakan antara yang hak dan yang batil,” ujarnya.

Tidak sedikit orang sebenarnya sudah tahu bahwa suatu perbuatan itu salah, tetapi tetap melakukannya. Hal itu terjadi karena cahaya pembeda di dalam hati belum hidup.

“Orang yang bertakwa itu tidak sibuk menyalahkan faktor eksternal, termasuk setan. Ia justru fokus untuk menguasai dan mendidik dirinya sendiri,” tandas Gus Salam.

Tiga Fase Pertumbuhan Jiwa

Ramadan adalah perjalanan pertumbuhan jiwa yang berlangsung dalam tiga fase.

1. Rahmatan (10 hari pertama)
Fase ini berfungsi melembutkan jiwa yang keras dengan kasih sayang Allah. Zikir yang dianjurkan antara lain,Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Fattah, Ya Latif.

2. Maghfirah atau Pengampunan (10 hari kedua)
Ini adalah fase pembersihan dosa dan pendalaman tobat. Zikir yang dianjurkan: Ya Ghaffar, Ya Tawwab, dan Ya ‘Afuww.

3. Kemuliaan dan Pembebasan (10 hari terakhir)
Fase ini adalah momentum pembebasan dari dosa serta waktu terbaik untuk menjemput Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Seluruh perjalanan Ramadan pada akhirnya bermuara pada satu tujuan utama, yakni kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Allah SWT menegaskan dalam firmanNya,

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu.” (QS Al Baqarah: 186)

Ayat ini menanamkan keyakinan, bahwa Allah selalu dekat dengan hambaNya. Ramadan adalah ruang paling luas untuk merasakan kehadiran itu di dalam hati.

Ramadan sejatinya adalah jalan penyucian jiwa. Ia hendaknya diawali dengan rahmat, dijalani dengan taubat, dan diakhiri dengan kemuliaan.

“Ramadan tidak serta-merta mengubah hidup seseorang, tetapi mengubah cara jiwa memandang dan menjalani kehidupan,” kata Gus Salam lagi.

Memasuki bulan suci Ramadan, sebagai adab seorang hamba, Gus Salam YS menuntun Jemaah untuk berdoa agar kita menjadi hamba yang benar-benar menjalani ibadah Ramadan dengan penuh kesadaran.

“Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadan dalam rahmatMu, bersihkan kami dengan ampunanMu, dan muliakan jiwa kami dalam ridhaMu.” (AHQ)