Kenapa Ikut Pesantren Ramadhan Online AHQ?

Ketika Lapar Ditahan, Tetapi Hati Belum Dibebaskan

AHQNews - Ramadan selalu datang dengan wajah yang sama: bulan suci, bulan ibadah, bulan penuh harap. Namun, di balik ramainya masjid, panjangnya zikir, dan seringnya tadarus, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri.

Apakah Ramadan benar-benar mengubah jiwa kita, atau hanya mengubah jam makan kita?

Banyak orang berpuasa di bulan Ramadan, tetapi yang berubah hanya tubuhnya. Lapar ditahan, haus dijaga. Sementara itu, marah masih disimpan, benci masih dipelihara, dan dendam tetap bersemayam di dalam dada.

Mereka bergembira menyambut Ramadan, tetapi masih sering mengeluh, menyalahkan keadaan, bahkan menyalahkan sesama. Masjid semakin ramai. Zikir semakin panjang. Tadarus semakin sering.

Namun, ketika Ramadan berlalu, tidak sedikit yang kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelumnya. Padahal, sejak awal Allah tidak pernah menurunkan puasa hanya untuk menahan makan dan minum.

Allah menegaskan tujuan utama Ramadan:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Takwa bukan sekadar rajin ibadah lahiriah. Takwa adalah kualitas batin. Ia tumbuh dari hati yang jernih, jiwa yang terlatih, dan kesadaran yang terus diasah.

Ramadan Bukan Rutinitas, Tetapi Tempaan Jiwa

Ramadan sejatinya adalah bulan latihan jiwa. Bulan tempaan spiritual agar manusia mendapatkan dua cahaya besar dalam hidupnya, yakni cahaya furqan yang menjernihkan pikiran, dan cahaya lailatul qadr yang menerangi kalbu.

Allah sendiri memuliakan malam itu dalam firmanNya;

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS Al-Qadr: 1)

Malam itu bukan hanya tentang pahala yang berlipat. Ia adalah momentum kebangkitan jiwa, ketika manusia kembali menemukan arah hidupnya.

Namun, realitasnya, tidak semua orang tahu bagaimana menjalani Ramadan sebagai proses penyucian diri. Banyak yang takut mencoba cara baru.

Banyak yang hanya mengulang kebiasaan lama, tanpa pernah menyentuh lapisan terdalam dari hatinya. Padahal, Allah telah memberi rumus perubahan yang sangat tegas.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar Ra‘d: 11)

Perubahan tidak lahir dari kalender, namun lahir dari kesadaran.

Pesantren Ramadan AHQ Ajak Berpuasa dengan Kesadaran

Di titik inilah Pesantren Ramadan AHQ hadir sebagai ruang latihan batin. Bukan sekadar mengisi jadwal ibadah, tetapi membimbing peserta untuk menjalani Ramadan dengan kesadaran, bukan hanya kebiasaan.

Selama 30 hari, peserta dituntun melewati tiga fase perjalanan jiwa:

  • Sepuluh hari pertama, Fase Rahmat
    Fase menyambut kasih sayang Allah dan menumbuhkan kembali kasih kepada sesama. Hati dilatih untuk tidak reaktif, tidak mudah menghakimi, dan tidak cepat menyalahkan. Sebab, rahmat tidak akan tumbuh di dalam hati yang penuh kemarahan.

  • Sepuluh hari kedua, Fase Magfirah (Pengampunan)
    Fase ini adalah pembersihan jiwa. Melepaskan iri, benci, dan dendam. Menggeser jiwa amarah menuju jiwa yang lebih tenang.

    Allah mengingatkan bahwa keberuntungan manusia terletak pada keberanian membersihkan batinnya.

    “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy Syams: 9–10)

  • Sepuluh hari terakhir, Fase Kemuliaan dan Pembebasan
    Fase kembalinya jiwa pada fitrah. Saat nilai-nilai akhlak mulai benar-benar hidup dalam perilaku, bukan hanya dalam wacana. Pada fase inilah Ramadan tidak lagi terasa sebagai kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan ruhani.

Dari Rutinitas Menuju Kesadaran

Pesantren Ramadan AHQ menempatkan Ramadan sebagai perjalanan batin dari gelap menuju cahaya, dari luka menuju kedamaian, dari rutinitas menuju kesadaran. Karena sejatinya, Idulfitri bukan sekadar hari raya.

Ia adalah penanda, bahwa manusia telah kembali kepada fitrahnya seperti bayi yang baru dilahirkan, bersih dari beban kebencian dan luka batin. Namun, jika selama ini Ramadan datang dan pergi tanpa perubahan berarti, mungkin bukan Ramadannya yang kurang istimewa, melainkan cara kita menjalaninya yang belum menyentuh hati.

Kini, selalu ada pilihan untuk menempuh jalan yang berbeda. Masuklah ke perjalanan ini. Jalani prosesnya. Raih cahayaNya. Dan, pulanglah dari Ramadan sebagai jiwa yang benar-benar kembali fitrah. (AHQ)