Renungan Fase 1 Ramadan

Menyingkirkan Gulma Batin: Riya, Hasad, dan Takabbur dalam Taman Jiwa

AHQNews - Ramadan adalah musim menyucikan batin. Namun setelah taubat dilazimkan dan dzikir dibiasakan, masih ada pekerjaan yang lebih sunyi. Yakni, mencabut ‘gulma’ hati yang tumbuh tanpa suara.

Riya, hasad, takabbur, dan ‘ujub adalah penyakit batin yang sering bersembunyi di balik amal. Seseorang bisa tetap rajin beribadah, aktif berdakwah, bahkan dihormati. Tetapi di dalamnya ada akar yang perlahan menggerogoti keikhlasan.

Allah Ta’ala menegaskan bahwa keselamatan bukan ditentukan oleh atribut duniawi.

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu‘arā’: 88–89)

Rasulullah, saw memperingatkan tentang syirik kecil yang paling beliau khawatirkan bagi umatnya. Para sahabat bertanya, “Apakah itu?” Beliau menjawab, “Riya.” Betapa halusnya penyakit ini sampai Rasulullah, saw khawatir ia menyusup ke dalam hati orang-orang yang rajin beribadah.

Dalam perjalanan ruhani, membersihkan dosa lahir lebih mudah daripada membersihkan niat. Menahan tangan dari maksiat bisa terlihat. Tetapi membersihkan hati dari ingin dipuji hanya Allah yang tahu.

Imam Al Ghazali menjelaskan, bahwa penyakit hati adalah sumber kerusakan amal. Jika hati tidak dijaga, amal yang banyak bisa kehilangan nilainya.

Kearifan Jawa mengingatkan, “Ati sing resik luwih penting tinimbang tumindak sing rame.” (Hati yang bersih lebih penting daripada tindakan yang ramai).

Ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengajak bercermin. Kita tidak sedang mencari siapa yang salah. Kita sedang mencari apa yang tersembunyi.

Parameter keselamatan itu satu, qalbun salīm, hati yang bersih.

Riya: Amal yang Bergeser Arah

Riya adalah beramal agar dilihat manusia. Ia sangat halus.

Amal tetap dilakukan, tetapi orientasinya bergeser. Bukan lagi sepenuhnya menuju Allah, melainkan menuju penilaian manusia.

Allah memperingatkan dalam firmanNya,

الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang berbuat riya.” (QS Al Mā‘un: 6)

Rasulullah SAW bahkan menyebut riya sebagai syirik kecil dan mengingatkan, bahwa itulah yang paling beliau khawatirkan menimpa umatnya (HR Ahmad). Karena, ia tidak terasa seperti dosa, tetapi mampu menghapus nilai amal.

Hasad: Api yang Membakar dari Dalam

Hasad adalah tidak rela melihat orang lain mendapatkan nikmat, bahkan berharap nikmat itu hilang darinya. Ia sering hadir sebagai rasa sempit di dada, bukan sebagai kebencian yang terang-terangan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang yang dengki”z ketika ia dengki.” (QS Al Falaq: 5)

Hasad pertama-tama menghancurkan pelakunya. Ia mengikis syukur, menumbuhkan gelisah, dan membuat nikmat terasa kurang.

Takabbur: Menolak Kebenaran

Takabbur bukan sekadar merasa lebih kaya atau lebih tinggi statusnya. Rasulullah SAW menjelaskan secara tegasmengingatkan,

ٱلْكِبْرُ بَطَرُ ٱلْحَقِّ وَغَمْطُ ٱلنَّاسِ

“Takabur (kesombongan) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim)

Sikap ini muncul saat hati sulit menerima nasihat, enggan mengakui kesalahan, atau merasa diri paling benar. Padahal,kesombongan pertama dilakukan oleh Iblis ketika ia menolak perintah Allah karena merasa lebih mulia.

Takabbur adalah tembok yang menghalangi cahaya hidayah masuk ke dalam jiwa.

‘Ujub: Kagum pada Diri Sendiri

‘Ujub adalah rasa bangga berlebihan terhadap amal dan kelebihan diri. Ia tidak membandingkan dengan orang lain, tetapi berpusat pada diri sendiri. Padahal semua kebaikan adalah anugerah Allah.

Jika pusat pujian berpindah dari Allah kepada diri sendiri, maka akar keikhlasan mulai mengering.

Mengapa Gulma Ini Harus Dicabut?

Karena yang menyelamatkan bukan banyaknya amal, melainkan kebersihan hati. Allah kembali menegaskan,

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS Asy Syu‘arā’: 89)"

Imam Al Ghazali menjelaskan, bahwa penyakit hati lebih berbahaya daripada penyakit fisik. Penyakit tubuh terasa sakit. Penyakit hati sering tidak terasa, tetapi merusak seluruh bangunan amal.

Dalam kearifan Jawa dikenal ungkapan: “Alang-alang kudu dicabut nganti oyote.” Gulma harus dicabut sampai akarnya. Jika tidak, ia akan tumbuh kembali, lebih kuat, lebih tersembunyi.

Awal Pembersihan: Kejujuran Spiritual

Membersihkan riya, hasad, dan takabbur dimulai dari keberanian mengakui kelemahan. Dari doa yang jujur:

“Ya Allah, bersihkan niatku. Ya Allah, jauhkan aku dari iri. Ya Allah, lembutkan hatiku”

Yang berbahaya bukan memiliki gulma. Yang berbahaya, adalah merasa tidak memilikinya.

Ramadan mengajarkan, bahwa perjalanan menuju Allah bukan sekadar menambah amal, tetapi memurnikan niat. Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan bukan reputasi, bukan pujian, bukan banyaknya aktivitas, melainkan hati yang bersih ketika menghadapNya. (AHQ)

Sumber: Buku Taman Jiwa, Dari Nafsu Amarah Menuju Mutmainah (Gus Salam YS, 2025)