Muhasabah Hari Kelima Ramadan
Melatih Pengendalian Diri Menuju Kedewasaan Spiritual


AHQNews - Memasuki hari kelima Ramadan dan bersiap menuju hari keenam, suasana batin umat Islam mulai memasuki fase yang lebih tenang. Euforia awal telah berlalu. Ritme sahur dan berbuka mulai terbentuk.
Tubuh beradaptasi, dan ibadah perlahan menemukan polanya. Pada titik inilah kualitas puasa sesungguhnya mulai diuji: bukan lagi pada semangat awal, tetapi pada konsistensi dan kedewasaan spiritual.
Allah Ta’ala berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan, bahwa tujuan utama puasa adalah takwa. Takwa bukan sekadar identitas religius, melainkan kondisi batin yang lahir dari kesadaran dan kemampuan mengendalikan diri. Ia tumbuh melalui latihan menahan dorongan, mengelola emosi, dan menundukkan hawa nafsu.
Fase Rahmah dan Pelembutan Hati
Sepuluh hari pertama Ramadan dikenal sebagai fase rahmah, fase turunnya kasih sayang Allah SWT.
Rahmah di sini tidak hanya bermakna limpahan pahala, tetapi juga kesempatan untuk melembutkan hati dan memperbaiki karakter.
Pada hari kelima menuju keenam ini, setiap Muslim dapat mulai bertanya pada dirinya: apakah puasa yang dijalani baru sebatas menahan lapar dan dahaga, atau sudah menyentuh dimensi batin? Apakah kita lebih sabar? Apakah lisan lebih terjaga? Apakah emosi lebih terkendali?
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 53)
Ayat ini mengingatkan, bahwa dorongan negatif dalam diri manusia adalah kenyataan yang harus dikelola. Puasa menjadi madrasah pengendalian diri. Ia melatih manusia agar tidak reaktif terhadap setiap dorongan, baik dorongan fisik maupun emosional.
Ujian Konsistensi
Hari kelima sering kali menjadi titik peralihan. Semangat yang tinggi di hari pertama bisa mulai menurun.
Tarawih yang awalnya terasa ringan bisa mulai terasa berat. Tilawah yang lancar di awal Ramadan bisa tersendat karena kelelahan atau kesibukan. Di sinilah makna istiqamah diuji.
Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, amal yang dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten, meskipun sedikit. Ramadan mengajarkan bahwa kualitas ibadah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya amal, tetapi juga oleh kesinambungan dan ketulusan.
Puasa juga menuntut pengendalian lisan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa apabila seseorang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya. Artinya, inti puasa adalah pembentukan karakter.
Ramadan sebagai Pendidikan Karakter
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan instan, Ramadan menghadirkan ruang jeda. Ia mengajarkan manusia untuk menunda keinginan, berpikir sebelum berbicara, dan bersabar sebelum bereaksi.
Secara kejiwaan, latihan menahan diri ini memperkuat kemampuan regulasi diri. Secara spiritual, ia menumbuhkan takwa. Keduanya saling berkaitan. Orang yang mampu mengendalikan dirinya akan lebih mudah menjaga hubungan dengan sesama, mengelola konflik, dan menata emosinya.
Memasuki hari kelima menuju keenam Ramadan, momentum ini menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah sederhana: Apakah puasa kita membuat hati lebih lembut? Apakah keluarga merasakan perubahan sikap kita? Apakah kita lebih mudah memaafkan dan menahan amarah?
Jika belum, Ramadan masih memberi ruang. Fase rahmah masih terbuka. Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki niat dan memperdalam kesadaran.
Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan proses pendewasaan spiritual. Dari latihan menahan diri, lahirlah pribadi yang lebih matang. Dari pengendalian hawa nafsu, tumbuhlah ketakwaan.
Menata Niat, Menjaga Langkah
Para ulama pesantren sering mengingatkan, bahwa Ramadan adalah momentum membersihkan hati sebelum membersihkan amal. Hati yang bersih akan melahirkan amal yang ikhlas. Amal yang ikhlas akan menumbuhkan kedekatan dengan Allah.
Memasuki hari keenam, mari kita perbarui niat. Jangan biarkan puasa hanya menjadi tradisi tahunan. Jadikan ia sebagai jalan pembentukan karakter, sebagai latihan menundukkan ego, dan sebagai sarana mendekat kepada Allah dengan hati yang lebih lembut.
Semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadi titik balik bukan hanya perubahan jadwal makan, tetapi perubahan sikap dan kesadaran. Semoga dari hari-hari awal ini, lahir pribadi-pribadi yang lebih sabar, lebih bijak, dan lebih matang secara spiritual.
Semoga dari Ramadan ini lahir jiwa-jiwa yang lebih sabar, lebih sadar, dan lebih dekat kepada Allah SWT.
Gus Salam YS, Pembimbing Ruhani & Penggagas Asmaul Husna Quotient (AHQ)
