Kajian Pesantren Ramadan Online Bersama Ustaz Ahmad Muhlisoni
Nafsu Mulhimah Jalan Ilham Menuju Ketakwaan


AHQNews - Proses menuju derajat takwa tidak bisa dilakukan secara instan. Ia menuntut tahapan penyucian jiwa yang berkesinambungan.
Hal itu disampaikan Ustaz Ahmad Muhlisoni dalam Kajian Pesantren Ramadan Online AHQ yang digelar via Zoom, Selasa (3/2/2026) malam. Menurutnya, perjalanan ruhani manusia bergerak melalui beberapa level nafsu. diantaranyanafsu amarah, lawwamah, hingga mencapai nafsu mulhimah.
Pada fase amarah, jiwa masih didominasi iri, dengki, dan dorongan ego. Lawwamah ditandai kesadaran dan penyesalan atas dosa.
Sementara mulhimah adalah fase ketika jiwa mulai menerima ilham ketakwaan dan melakukan perbaikan diri secara konsisten.
Secara teologis, konsep ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Asy Syams ayat 7–8:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَاۙ
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
“Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya.”
Ayat tersebut menegaskan, bahwa setiap manusia memiliki potensi dua arah. Nafsu mulhimah terjadi ketika ilham ketakwaan lebih dominan dan direspons dengan kesadaran spiritual.
Relevansi dengan Fase Magfirah
Ustaz Soni menekankan, bahwa fase nafsu mulhimah selaras dengan sepuluh hari kedua Ramadan, yang dikenal sebagai fase magfirah (pengampunan). Momentum ini menjadi ruang muhasabah mendalam, mengakui kesalahan secara jujur dan memohon ampun secara sungguh-sungguh.
Penguatan ruhani dilakukan melalui pengamalan Asmaul Husna, antara lain Ar Rahman, Al Ghaffar, At Tawwab, dan Al ‘Afuww, sebagai bentuk internalisasi nilai kasih sayang dan pengampunan Allah.
Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan bisikan ilahi dan bisikan nafsu. Bisikan nafsu melahirkan kegelisahan, ego, dan dorongan mencari pujian. Sebaliknya, ilham ilahi menghadirkan ketenangan, kedamaian, dan selaras dengan sunah Rasulullah.
Indikator Jiwa Mulhimah
Beberapa tanda seseorang memasuki fase ini, antara lain tumbuhnya cinta pada kebaikan, mudah memaafkan, segera bertaubat saat bersalah, meningkatnya kualitas ibadah, serta ketidaknyamanan berada di lingkungan maksiat.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah At Taubah ayat 100:
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًاۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya… Itulah kemenangan yang besar.”
Dalam pandangan Ustaz Soni, ridha Allah adalah indikator tertinggi keberhasilan proses penyucian jiwa.
Menjaga Stabilitas Ruhani
Agar tidak kembali turun ke level sebelumnya, ia menganjurkan tiga hal yaitu istiqomah dalam zikir, memperdalam ilmu agama bersama guru pembimbing, serta membangun lingkungan yang mendukung pertumbuhan spiritual.
Kajian ini menegaskan, bahwa Ramadan bukan sekadar perubahan pola makan, melainkan momentum pembentukan ulang jiwa. Fase magfirah menjadi titik krusial untuk menyalakan ilham ketakwaan, agar pengampunan tidak berhenti pada ritual, tetapi berlanjut menjadi transformasi batin yang nyata. (AHQ)




