Kajian Pesantren Ramadan Online Bersama Ustaz Ahmad Yuana Sangaji
Ramadan Momentum Perbaikan Wajah Batin


AHQNews - Mengelola amarah, menumbuhkan rasa malu kepada Allah, dan menghidupkan hati dengan air mata menjadi tiga kunci penyucian jiwa yang ditekankan dalam Kajian Pesantren Ramadan Online AHQ pada Rabu (25 Februari 2026).
Kajian yang digelar melalui Zoom Meeting tersebut menghadirkan Ustaz Ahmad Yuana Sangaji asal Tempel, Sleman, Yogyakarta, dengan tema ‘Tiga Cahaya Penyucian Jiwa’.
Kegiatan ini menjadi bagian rangkaian pembinaan spiritual Ramadan AHQ untuk memperkuat kualitas batin umat.
Wajah Batin Lebih Utama dari Wajah Lahir
Dalam pemaparannya, Ustaz Ahmad menegaskan bahwa manusia memiliki dua wajah: wajah lahir (zahir) yang tampak oleh manusia, dan wajah batin yang menjadi hakikat diri di hadapan Allah.
Ia merujuk pada firman Allah dalam QS Asy Syams ayat 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”
Ia juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَجْسَادِكُمْ، وَلَٰكِنْ يَنْظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan"
jasad kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR Muslim)
Ustaz Ahmad menyebut, Ramadan adalah momentum penyucian wajah batin, bukan sekadar perbaikan tampilan ibadah lahiriah.
Amarah, Isyarat yang Harus Disadari
Ustaz Ahmad menjelaskan, bahwa amarah tidak selalu berbentuk ledakan emosi. Ia bisa tersembunyi, namun perlahan merusak kualitas jiwa jika tidak dikelola.
Ia mengaitkan pentingnya pengendalian jiwa dengan prinsip penyucian sebagaimana disebut dalam QS Al Qiyamah ayat 22–23:
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri"
memandang kepada Tuhannya.”
Menurutnya, wajah yang berseri di akhirat adalah buah dari jiwa yang terkelola di dunia. Ia menekankan enam langkah mengelola amarah dengan Cahaya Al Furqan:
Diam 3–5 detik sebelum bereaksi.
Hadirkan kesadaran bahwa Allah melihat batin.
Tunda ucapan dan keputusan.
Berdzikir: Ya Rahman, Ya Halim, Ya Nur.
Lepaskan tuntutan ego untuk selalu dimengerti.
Berdoa agar wajah batin diperbaiki.
“Orang bercahaya bukanlah yang tidak pernah marah, tetapi yang tidak membiarkan amarah menguasai dirinya,” tegasnya.



Menumbuhkan Rasa Malu kepada Allah
Bagian berikutnya membahas rasa malu kepada Allah. Ustaz Ahmad mengutip QS Al ‘Alaq ayat 14:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
"Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?”
Rasa malu yang dimaksud bukanlah minder, melainkan kesadaran spiritual bahwa Allah Maha Melihat dan tetap memberi nikmat meski hamba lalai.
Ia juga mengingatkan hadis Nabi SAW:
اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar rasa malu.” (HR. Tirmidzi)"
Menurutnya, malu yang sehat akan memperhalus jiwa dan menjaga adab batin.
Air Mata yang Menghidupkan Hati
Ustaz Ahmad kemudian menjelaskan tentang air mata sebagai tanda hidupnya hati. Ia merujuk QS Al Isra’ ayat 109:
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
“Mereka menyungkur atas wajah mereka sambil menangis dan bertambah khusyuk.”
Ia juga mengutip hadis:
عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ...
"Dua mata yang tidak disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah…” (HR Tirmidzi)"
Menurutnya, air mata karena Allah adalah bahasa jiwa yang paling jujur. Ia lahir dari penyesalan yang disertai harap.
“Penyesalan tanpa harap melukai. Penyesalan dengan harap menyembuhkan,” ujarnya.
Ramadan dan Perubahan Wajah Batin
Menutup kajian, Ustaz Ahmad mengajak peserta menjadikan Ramadan sebagai momentum perubahan nyata pada wajah batin:
Kelola amarah dengan kesadaran dan dzikir.
Tumbuhkan malu dengan muraqabah dan syukur.
Hidupkan hati dengan air mata yang penuh harap.
Ia pun memanjatkan doa:
“Ya Allah, perbaikilah wajah batin kami dengan CahayaMu. Jadikan kami hamba yang mampu menahan amarah, memiliki rasa malu kepadaMu, dan memiliki hati yang lembut yang mudah kembali kepadaMu.”
Kajian Pesantren Ramadan Online AHQ ini menegaskan,bahwa keberhasilan Ramadan tidak hanya diukur dari banyaknya amal, tetapi dari sejauh mana wajah batin berubah dan bercahaya. (AHQ)
