Ribuan Jamaah dari 13 MT se-Kota Tangerang Sambut Tahun Baru 2026 dengan Menata Hati Bersama Gus Salam YS

AHQNews – Pagi itu, Kamis (1/1/2026), udara di sekitar Masjid Raya Al-A’zhom terasa berbeda. Saat sebagian orang masih larut dalam euforia pergantian tahun, ribuan jamaah justru melangkah pelan memasuki masjid dengan wajah teduh.

Lantunan dzikir mulai menggema, menyatu dengan doa-doa lirih yang dipanjatkan dari hati-hati yang rindu ketenangan. Hari pertama tahun baru pun dibuka dengan istighosah, bukan dengan sorak, melainkan dengan sujud dan harap.

Sekitar 3.000 jamaah dari 13 Majelis Taklim (MT) se-Kota Tangerang memadati area masjid sejak pagi. Mereka datang dari latar belakang yang beragam, ada yang datang bersama keluarga, ada yang sendiri, ada pula yang tampak menunduk lama dalam doa.

Di tengah suasana yang khidmat dan hangat itu, Gus Salam YS, SE MM MPd memimpin Istighosah Akbar bertema Cahaya Asmaul Husna, Solusi Kehidupan Menuju Keberkahan.

Kehadiran jemaah di majelis ini bukan sekadar mengikuti agenda keagamaan, melainkan ikhtiar batin untuk menata ulang hidup. Tahun yang berganti dipandang sebagai kesempatan untuk membersihkan hati, memperbaiki niat, dan menyambungkan kembali diri kepada Allah SWT setelah perjalanan hidup yang melelahkan.

Di hadapan jamaah, Konseptor dan Inovator AHQ ini memimpin dzikir dan menyampaikan tausiyah bertema Cahaya Asmaul Husna, Solusi Kehidupan Menuju Keberkahan. Gus Salam YS mengajak jamaah melihat persoalan hidup dari sudut pandang yang lebih jernih.

Ia memperkenalkan Asmaul Husna Quotient (AHQ) sebagai kecerdasan ilahiah yang menuntun manusia dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin.

Menurutnya, manusia kerap kehabisan energi bukan karena terlalu banyak masalah, melainkan karena hati tidak terhubung dengan sumber cahaya.

“Masalah hidup itu pasti ada,” tutur Gus Salam. “Yang membuat manusia lelah bukan banyaknya masalah, tetapi hati yang tidak terhubung dengan Allah.”

Disampaikan Dengan Bahasa Sederhana

Dengan bahasa sederhana, ia menjelaskan konsep AHQ sebagai kecerdasan ilahiah yang membantu manusia menata keseimbangan antara kebutuhan lahir dan batin. Menurutnya, rezeki, kesehatan, dan ketenangan hidup tidak bisa dilepaskan dari kondisi hati.

Gus Salam kemudian mengibaratkan hati manusia seperti ponsel yang kehilangan jaringan. Ketika koneksi dengan Allah melemah, hidup mudah diliputi kegelisahan, sulit bersyukur, dan rawan keluhan. Namun saat hati kembali tersambung melalui dzikir, persoalan hidup tetap ada, tetapi terasa lebih ringan untuk dihadapi.

Di tengah rangkaian istighosah, jamaah diajak memusatkan doa pada lima hal utama, yakni rezeki yang berkah, kesehatan jasad dan jiwa, anak-anak yang saleh, syafaat bagi diri dan leluhur, serta keselamatan dunia dan akhirat. Pada momen ini, suasana terasa semakin hening.

Beberapa jamaah tampak menunduk lebih dalam, sebagian menyeka air mata dengan perlahan.

Metode dzikir yang disampaikan Gus Salam menekankan proses Qobiltu, menerima dan menghadirkan Asmaul Husna ke dalam kesadaran hati. Zikir tidak hanya dilafalkan, tetapi diresapi sebagai cahaya yang membentuk ketenangan dan akhlak.

Ia juga menyebut beberapa Asmaul Husna seperti Ya Rahman, Ya Fattah, Ya Razzaq, Ya Wadud, dan Ya Muqaddimsebagai wasilah spiritual untuk membuka jalan hidup yang terasa sempit.

Suasana majelis makin terasa hidup ketika jamaah merespons ajakan doa dan tausiyah dengan penuh kesadaran. Namun, hiruk itu tetap berada dalam bingkai kekhusyukan. Kebersamaan yang terbangun membuat istighosah ini bukan hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ruang silaturahmi ruhani yang menenangkan.

Menjelang penutupan, Gus Salam menegaskan bahwa hidup yang berkah tidak selalu ditandai oleh kelimpahan materi, melainkan oleh hati yang tenang, keluarga yang damai, dan rezeki yang terasa cukup. Tahun baru, menurutnya, adalah waktu yang tepat untuk mengisi ulang daya batin, agar langkah ke depan lebih terarah dan penuh makna.

“Kalau hati sudah tenang, rezeki akan terasa cukup. Keluarga menjadi damai. Di situlah tanda hidup yang berkah,” ujar Gus Salam menutup tausiyahnya.

Istighosah Akbar di Masjid Raya Al A’zhom pun berakhir dengan doa bersama. Jamaah meninggalkan masjid dengan langkah yang tidak tergesa, seolah membawa pulang sesuatu yang tidak kasat mata, yaitu ketenangan, harapan, dan cahaya untuk menapaki hari-hari di tahun yang baru.

Momen akbar ini pun menjadi pengingat, bahwa membuka tahun baru tidak selalu tentang resolusi besar, tetapi tentang menyambungkan kembali hati kepada sumber cahaya, agar langkah ke depan dipenuhi keberkahan. (AHQ)